Edukasi Perilaku Makan Jadi Fokus Program Pendamping MBG
Ketua Umum Indonesian Gastronomy Community (IGC), Ria Musiawan, menegaskan bahwa pihaknya mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan cara berbeda.
Alih-alih menyediakan makanan, komunitas ini lebih menitikberatkan pada pendidikan kebiasaan makan sehat dan bertanggung jawab. Fokus mereka adalah mengajarkan anak-anak agar memahami nilai dari setiap butir makanan yang dikonsumsi.
“Kami tidak memberikan makanan secara langsung, tapi fokus pada edukasi soal perilaku makan. Terutama pada guru, karena mereka punya peran kunci di sekolah,” ujar Ria dalam forum pakar di Jakarta, Sabtu (29/11/2025).
Baca Juga : “8 Alasan Kenapa Diet Gagal dan Berat Badan Tak Turun“
Nilai Tradisional Jadi Materi Pembelajaran Anak Usia Sekolah Dasar
Dalam materi edukasi yang disampaikan ke para guru, IGC menyisipkan unsur budaya lokal, seperti kisah Dewi Sri, sosok dewi padi yang dihormati masyarakat agraris Indonesia.
Kalimat legendaris seperti “Habiskan makanmu, nanti Dewi Sri menangis” digunakan kembali sebagai pendekatan edukatif yang menyentuh secara emosional dan kultural.
“Kalimat itu bukan sekadar mitos. Tapi pesan turun-temurun yang menyampaikan pentingnya menghargai makanan,” kata Ria.
Dewi Sri: Simbol Kesuburan dan Etika Menghormati Pangan
Dewi Sri telah lama dikenal dalam tradisi masyarakat pedesaan sebagai lambang kesuburan dan penjaga hasil panen. Ia mewakili filosofi bahwa makanan tidak datang begitu saja, melainkan hasil dari kerja keras dan alam.
Mengajarkan anak-anak agar tidak menyia-nyiakan makanan dengan cara mengenalkan tokoh seperti Dewi Sri, menurut Ria, justru membuat pesan lebih mudah diingat dan diterima.
“Orang tua kita dulu tidak pernah menjelaskan logika, tapi melalui simbol. Itu yang membuat nilai ini melekat hingga sekarang,” jelasnya.
Didukung BGN, Program Edukasi Berjalan di Lima Kota
Program edukasi yang diprakarsai IGC juga telah mendapatkan dukungan resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN). Mereka bekerja sama dalam mengembangkan materi ajar dan pelaksanaan kegiatan di sekolah dasar.
Ria menyampaikan bahwa program ini sudah berjalan di Jakarta, Bandung, Cirebon, Bogor, dan Yogyakarta, dengan melibatkan para guru sebagai perantara utama penyampaian pesan.
“BGN mendukung kami sejak awal. Kami presentasikan materi lebih dulu, dan mereka ikut mengawal pelaksanaannya,” katanya.
Tak Hanya Mitos, Tapi Juga Etika Makan Sehari-hari
Selain pendekatan budaya, IGC juga menyisipkan pelajaran praktis seperti cara menggunakan alat makan dengan benar, pentingnya duduk saat makan, dan tata cara mengunyah.
“Anak-anak diajarkan agar tahu makan itu bukan asal kenyang, tapi juga soal sikap. Misalnya, sendok dan garpu tidak dibawa jalan-jalan, makan harus tenang,” ujar Ria.
Ajarkan Anak Menghargai Proses Makanan dari Alam ke Meja
Dengan memadukan pesan budaya dan tata krama, IGC ingin anak-anak memahami bahwa setiap makanan di piring mereka melewati proses panjang. Mulai dari menanam padi, panen, distribusi, hingga dimasak dan disajikan.
Nilai-nilai ini penting dikenalkan agar sejak dini mereka memiliki rasa hormat terhadap makanan dan tidak dengan mudah menyia-nyiakannya.
“Kami ingin anak-anak sadar, ada banyak orang di balik satu piring nasi itu,” ungkap Ria.
Kurangi Food Waste Lewat Kesadaran Budaya Sejak Dini
Laporan dari FAO (Food and Agriculture Organization) menyebutkan bahwa sekitar sepertiga makanan dunia terbuang setiap tahun. Hal ini terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Membiasakan anak untuk tidak menyisakan makanan, menurut IGC, merupakan bagian penting dari pengurangan limbah pangan (food waste) yang menjadi masalah global.
“Kalau mereka terbiasa menghabiskan makanan sejak kecil, besar nanti mereka tak akan mudah membuang makanan,” kata Ria.
Tradisi Jadi Jembatan Menuju Gaya Hidup Makan yang Berkelanjutan
Melalui pendekatan budaya seperti Dewi Sri, anak-anak tidak hanya dikenalkan pada makanan sehat, tapi juga diajak mengembangkan karakter yang menghargai kehidupan.
Bagi IGC, keberhasilan edukasi bukan hanya soal murid menghabiskan makanan, tapi ketika mereka benar-benar memahami alasannya.
“Kita bukan sekadar melarang menyisakan makanan, tapi mengajak mereka tahu maknanya. Makan adalah wujud syukur dan tanggung jawab,” pungkasnya.
baca Juga : “Makan Bergizi Gratis Banyak Tersisa, Siswa Diberi Hadiah-Beasiswa Jika Habiskan“











