Mitos Kehamilan Bisa Ganggu Kesehatan Mental Ibu
Banyak mitos seputar kehamilan masih beredar di masyarakat dan kerap diterima mentah-mentah oleh ibu hamil. Meskipun sebagian mitos bertujuan melindungi kehamilan, nyatanya informasi yang keliru justru bisa menimbulkan kecemasan hingga gangguan psikologis.
Beberapa ibu hamil merasa ragu saat harus melakukan pemeriksaan rutin atau mengonsumsi makanan tertentu karena takut dengan dampak yang sebenarnya tidak terbukti secara medis. Hal ini perlu diluruskan dengan pendekatan ilmiah agar ibu hamil bisa merasa lebih tenang dan mendapatkan pengalaman kehamilan yang sehat dan positif.
Baca Juga : “Atasi Kantuk Usai Makan Siang Tanpa Kopi dengan 11 Cara Ini“
Pemeriksaan USG Sering Dianggap Berbahaya, Padahal Aman
Salah satu mitos paling umum adalah keyakinan bahwa pemeriksaan USG terlalu sering dapat membahayakan janin karena paparan radiasi. Banyak ibu hamil bertanya kepada dokter tentang hal ini karena takut dampak jangka panjang.
Namun, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr. Julita D.L. Nainggolan, menegaskan bahwa pemeriksaan USG sama sekali tidak mengandung risiko radiasi seperti X-ray. “USG sangat aman dan bisa dilakukan kapan pun sesuai kebutuhan medis,” ungkapnya dalam acara talkshow “Menuju Hari Ibu: Persalinan Nyaman di Setiap Langkah” di Siloam Hospital Lippo Village, Kamis, 11 Desember 2025.
Pemeriksaan USG bukan hanya aman, tetapi juga penting untuk memantau kondisi janin dan mendeteksi masalah sejak dini, seperti kehamilan kosong atau anggur. Pemeriksaan ini menjadi bagian dari protokol medis standar selama masa kehamilan.
Frekuensi USG Meningkat Seiring Usia Kehamilan
USG tidak dilakukan secara sembarangan. Frekuensi pemeriksaan meningkat secara bertahap tergantung pada usia kehamilan. Setelah memasuki trimester ketiga, ibu hamil disarankan untuk lebih sering kontrol ke dokter.
“Mulai usia kehamilan 28 minggu, kontrol sebaiknya dilakukan dua minggu sekali. Memasuki minggu ke-36, pemeriksaan dilakukan setiap minggu,” jelas dr. Julita. Ini penting untuk memantau kondisi plasenta dan air ketuban, karena menjelang akhir kehamilan, keduanya berisiko menurun.
Dengan pemantauan rutin, dokter bisa memastikan pasokan nutrisi ke janin tetap optimal hingga waktu persalinan tiba. USG juga membantu menentukan posisi bayi, kondisi tali pusat, serta pergerakan janin.
Konsumsi Durian Saat Hamil: Boleh, Tapi Perlu Kontrol
Mitos lainnya yang juga cukup populer adalah larangan makan durian bagi ibu hamil. Buah ini disebut-sebut bisa menyebabkan kontraksi dini atau bahkan keguguran. Namun, menurut dr. Herawati Sri Ratna Dewi, mitos tersebut tidak memiliki dasar ilmiah.
“Durian dan nanas sebenarnya aman dikonsumsi selama hamil, asalkan tidak berlebihan. Tidak ada makanan tertentu yang secara mutlak dilarang,” tegasnya. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara yang sama di Siloam Hospital.
Durian memang memiliki indeks glikemik tinggi, sehingga ibu hamil, terutama yang memiliki riwayat diabetes gestasional, harus lebih bijak dalam mengonsumsinya. Konsumsi berlebihan bisa berdampak pada kadar gula darah yang tinggi dan memengaruhi kesehatan janin.
Gizi Seimbang Tetap Menjadi Kunci Kehamilan Sehat
Fokus utama dalam menjaga kehamilan tetap sehat bukan terletak pada pantangan makanan tertentu, melainkan pada keseimbangan gizi yang dikonsumsi. Mengonsumsi makanan bergizi dengan porsi seimbang membantu menghindari risiko Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada bayi.
“Tidak ada pantangan khusus. Namun, pola makan harus tetap seimbang. Jika ibu hamil kekurangan gizi, ini bisa berdampak pada pertumbuhan janin,” jelas dr. Herawati. Mitos yang tidak tepat justru bisa menyebabkan bumil membatasi makanan sehat secara tidak perlu.
Dokter menyarankan agar ibu hamil mengonsumsi makanan yang kaya zat besi, protein, serat, dan vitamin, serta memperbanyak minum air putih. Bila perlu, konsultasikan asupan harian ke ahli gizi untuk menghindari risiko gangguan nutrisi selama kehamilan.
Peran Edukasi Digital: Siloam Luncurkan Layanan AI “Sahabat Ibu”
Melihat tingginya kesenjangan informasi yang terjadi di kalangan ibu hamil, Siloam Hospitals memperkenalkan layanan konsultasi digital berbasis Artificial Intelligence (AI) bernama Sahabat Ibu. Layanan ini dapat diakses 24 jam melalui WhatsApp dan didukung oleh tim bidan serta dokter spesialis kandungan.
Yanti Mayasari, Clinical Strategy and Innovation Director di Siloam Hospitals, menjelaskan bahwa layanan ini hadir untuk menjawab kebutuhan informasi yang cepat, akurat, dan personal. “Kami ingin setiap ibu, tak peduli lokasi dan latar belakangnya, bisa mendapatkan edukasi yang setara,” jelasnya.
Melalui layanan ini, ibu hamil akan mendapatkan edukasi sesuai usia kandungannya. Materi diberikan setiap dua minggu sekali, mencakup panduan vitamin, larangan spesifik, hingga pengingat jadwal kontrol ke dokter. Ini diharapkan dapat menekan risiko komplikasi akibat minimnya pengetahuan selama kehamilan.
Inisiatif Teknologi Kesehatan untuk Kehamilan yang Lebih Aman
Pemanfaatan teknologi dalam layanan kesehatan maternal kini menjadi tren yang berkembang pesat. Sistem seperti Sahabat Ibu menunjukkan bagaimana AI dapat digunakan untuk mendukung edukasi dan pelayanan kesehatan yang lebih merata di Indonesia.
Data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa sekitar 24% ibu hamil di Indonesia masih kekurangan informasi dasar mengenai nutrisi dan kontrol kehamilan. Layanan semacam ini sangat penting untuk mengisi kekosongan edukasi, terutama di daerah dengan akses terbatas terhadap tenaga medis.
Dengan kombinasi teknologi dan pendekatan personal, program seperti Sahabat Ibu tidak hanya membantu menjawab mitos, tetapi juga mengedukasi masyarakat dengan pendekatan yang mudah diakses dan dipahami.
Penutup: Kesehatan Ibu dan Janin Butuh Informasi yang Akurat
Mitos seputar kehamilan akan terus berkembang jika tidak diluruskan dengan edukasi berbasis bukti medis. Ibu hamil perlu dibekali informasi yang valid agar dapat mengambil keputusan yang tepat dalam menjaga kehamilan mereka.
Pemeriksaan USG tidak membahayakan dan justru sangat penting untuk memantau tumbuh kembang janin. Durian pun bukan buah terlarang, selama dikonsumsi dalam batas wajar. Yang terpenting, ibu hamil harus selalu mengutamakan gizi seimbang dan berkonsultasi secara rutin.
Inovasi seperti layanan AI Sahabat Ibu menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi solusi konkret untuk meningkatkan kualitas informasi kesehatan reproduksi di Indonesia. Semakin banyak ibu yang mendapatkan informasi yang benar, semakin kecil kemungkinan mitos akan memengaruhi kesehatan mental dan fisik mereka.
Baca Juga : “Bolehkah Ibu Hamil Makan Durian? Ini Manfaat dan Risikonya“











