Berhenti Salahkan Makan Malam, Obesitas Punya Banyak Faktor

obesitas Salahkan Makan Malam

Pandangan Keliru tentang Obesitas Masih Menyebar di 2026

Memasuki tahun 2026, masih banyak masyarakat yang memandang obesitas secara simplistis. Kebanyakan menyalahkan kebiasaan makan malam sebagai penyebab utama. Padahal, obesitas merupakan kondisi yang jauh lebih kompleks. Berbagai faktor internal dan eksternal berperan penting dalam memengaruhi berat badan seseorang.

Aktivitas Fisik Minim Lebih Berpengaruh daripada Waktu Makan

Gaya hidup masyarakat saat ini lebih banyak dilakukan dalam posisi duduk. Dari bekerja hingga berbelanja makanan, hampir semua bisa dilakukan dari satu tempat tanpa harus bergerak banyak. Inilah yang kemudian memicu ketidakseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang digunakan.

Ketika tubuh tak banyak bergerak, kalori berlebih akan disimpan sebagai lemak. Dalam jangka panjang, ini memicu kelebihan berat badan hingga obesitas. Makan malam bukanlah satu-satunya penyebab, tetapi sering dijadikan kambing hitam karena dianggap berkontribusi pada penumpukan lemak.

Baca Juga : “Liburan Bantu Anak Sehat Fisik dan Mental, Kata Psikolog“

Pernyataan Ahli: Obesitas Tak Cuma Soal Makanan

Menurut dr. Riyanny Meisha Tarliman, Clinical, Medical, and Regulatory Director Novo Nordisk Indonesia, terlalu menyederhanakan obesitas sebagai efek dari pola makan adalah kesalahan umum. Dalam pernyataannya di kanal YouTube DRV Channel, Riyanny menegaskan bahwa obesitas dipicu oleh banyak hal, bukan hanya makanan.

Ia menyebutkan bahwa makan malam memang bisa menjadi faktor, tetapi bukan faktor penentu utama. Gaya hidup yang pasif, jam tidur yang terganggu, serta kondisi hormonal turut berperan besar dalam menentukan berat badan seseorang.

Peran Hormon dan Genetik Tak Bisa Diabaikan

Tubuh manusia bekerja dengan sistem hormon yang kompleks. Hormon seperti leptin dan ghrelin, misalnya, mengatur rasa lapar dan kenyang. Ketika terjadi gangguan pada hormon ini, seseorang bisa merasa lapar terus-menerus meskipun kebutuhan energinya telah terpenuhi.

Selain itu, faktor keturunan juga sangat memengaruhi. Ada individu yang cenderung menyimpan lemak lebih banyak meskipun pola makan mereka tidak berlebihan. Karena itu, pendekatan terhadap obesitas harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Jam Makan Bukan Satu-Satunya Variabel

Waktu makan memang penting, namun bukan faktor tunggal. Kombinasi antara jam makan, kualitas tidur, dan waktu istirahat menentukan efektivitas metabolisme tubuh. Makan malam terlalu larut, apalagi dekat dengan waktu tidur, bisa mengganggu ritme sirkadian yang berdampak pada penyerapan energi.

Namun, menyalahkan makan malam tanpa melihat pola hidup secara keseluruhan adalah tindakan yang menyesatkan. Yang seharusnya ditekankan adalah bagaimana individu mengatur aktivitas harian secara seimbang, bukan hanya memfokuskan pada satu aspek saja.

Olahraga Tak Bisa Dilakukan Sembarangan

Meskipun aktivitas fisik sangat penting, tidak semua jenis olahraga cocok untuk setiap individu, terutama bagi mereka yang mengalami obesitas. Riyanny mengingatkan bahwa olahraga harus disesuaikan dengan kondisi tubuh, terutama jika ada masalah kesehatan lain seperti nyeri lutut.

Sebagai contoh, aktivitas fisik seperti lari tidak dianjurkan bagi penderita obesitas yang mengalami masalah sendi. Latihan kekuatan dan kardio ringan yang disesuaikan dengan kondisi fisik bisa menjadi alternatif lebih aman dan efektif.

Solusi Holistik: Gabungkan Pola Makan, Gerak, dan Istirahat

Penanganan obesitas harus dilakukan secara menyeluruh. Ini mencakup perbaikan pola makan, peningkatan aktivitas fisik yang terukur, serta pengaturan waktu tidur yang konsisten. Diet ekstrem atau olahraga berlebihan justru berisiko menimbulkan efek negatif.

Pendekatan medis yang direkomendasikan adalah program berbasis kebutuhan personal, dengan memperhatikan kondisi metabolik, psikologis, dan sosial pasien. Dengan begitu, hasil yang didapat bisa lebih berkelanjutan dan tidak sekadar menurunkan angka di timbangan.

Data WHO: Obesitas Global Terus Meningkat

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa prevalensi obesitas meningkat hampir dua kali lipat dalam dua dekade terakhir. Faktor utama yang berkontribusi termasuk peningkatan konsumsi makanan tinggi kalori, kurangnya aktivitas fisik, serta perubahan gaya hidup masyarakat urban.

Indonesia tidak luput dari tren ini. Berdasarkan Riskesdas 2023, angka obesitas pada penduduk dewasa meningkat lebih dari 20% dibandingkan tahun 2018. Fakta ini menunjukkan perlunya edukasi publik yang lebih masif dan pendekatan kebijakan yang lebih inklusif.

Edukasi dan Empati Jadi Kunci Perubahan

Stigma terhadap orang dengan obesitas masih sangat tinggi. Banyak yang menyalahkan individu tanpa memahami kompleksitas penyebabnya. Padahal, empati dan edukasi lebih dibutuhkan ketimbang penilaian moral.

Perubahan persepsi publik sangat penting agar masyarakat mulai memahami bahwa obesitas adalah kondisi medis, bukan kegagalan pribadi. Kampanye publik yang berfokus pada gaya hidup sehat, bukan pada body shaming, bisa menjadi awal yang baik.

Kesimpulan: Obesitas Perlu Dipahami dengan Cara Baru

Masyarakat perlu keluar dari pola pikir lama yang menyalahkan makan malam sebagai sumber utama obesitas. Tahun 2026 adalah momen untuk melihat obesitas sebagai hasil dari interaksi berbagai faktor—gaya hidup, hormon, genetika, hingga kondisi sosial.

Dengan memahami kompleksitas ini, kita bisa mengambil langkah yang lebih tepat: bukan sekadar menyalahkan, tapi mulai mendorong perubahan perilaku secara kolektif. Dan itu dimulai dengan memperluas wawasan, membangun empati, dan mendukung pendekatan medis yang holistik dan personal.

Baca Juga : “Dampak Makan Malam Berlebihan Bagi Kesehatan“

Exit mobile version