Kekhawatiran Orangtua Soal Operasi Hernia Tidak Sepenuhnya Keliru
Kekhawatiran para orangtua tentang risiko kemandulan anak setelah menjalani operasi hernia bukanlah hal yang berlebihan. Dalam praktik medis, memang terdapat potensi komplikasi yang melibatkan saluran sperma, terutama bila prosedur dilakukan dengan teknik operasi terbuka.
Dokter spesialis bedah anak dari RS Pondok Indah-Pondok Indah, dr. Karmile, Sp.BA, mengungkapkan bahwa kekhawatiran semacam ini wajar. Pasalnya, lokasi operasi berada sangat dekat dengan struktur reproduksi anak laki-laki, yakni saluran sperma yang sangat halus dan vital.
“Orangtua sering takut kalau anak operasi hernia nanti mandul. Kekhawatiran itu enggak salah, karena secara teori memang bisa terjadi komplikasi berupa terpotongnya saluran sperma,” ujar dr. Karmile dalam temu media, Kamis (18/12/2025).
Baca Juga : “Dokter Rekomendasikan 7 Herbal Redakan Pegal Remaja Jompo“
Operasi Terbuka Berisiko Cedera Saluran Sperma
Hernia pada anak sering kali ditangani melalui prosedur bedah. Namun, menurut dr. Karmile, metode operasi terbuka (open surgery) membawa risiko cedera pada saluran sperma, meski kemungkinan kejadiannya tergolong sangat rendah, yakni sekitar 1 dari 1000 kasus. Risiko tersebut muncul karena keterbatasan pandangan terhadap struktur kecil di sekitar hernia.
Dalam operasi terbuka, dokter menggunakan gunting untuk memotong kantung hernia. Tanpa visualisasi yang memadai, saluran sperma yang sangat tipis bisa terpotong secara tidak sengaja. Hal ini dapat menimbulkan kekhawatiran jangka panjang, termasuk potensi gangguan kesuburan di masa depan.
Laparoskopi: Solusi Operasi Lebih Aman dan Minim Risiko
Sebagai alternatif yang lebih aman, teknik laparoskopi kini menjadi pilihan unggulan untuk mengatasi hernia pada anak. Prosedur ini dilakukan dengan bantuan kamera kecil yang dimasukkan melalui sayatan minimal pada dinding perut. Kamera tersebut memberikan pandangan jelas terhadap organ-organ dalam rongga perut, termasuk saluran sperma.
“Dengan laparoskopi, visualisasi organ jadi jauh lebih jelas. Saluran kecil seperti saluran sperma bisa terlihat jelas. Jadi, kemungkinan terpotong hampir tidak mungkin,” jelas dr. Karmile.
Teknik ini juga dinilai lebih presisi dan minim trauma karena tidak menggunakan alat pemotong seperti gunting. Dokter cukup menggunakan jarum untuk mengikat lubang hernia, sehingga menghindari risiko merusak jaringan di sekitarnya.
Belum Ada Kasus Cedera Saluran Sperma pada Laparoskopi
Berdasarkan laporan medis yang ada, hingga kini belum pernah tercatat adanya kasus cedera saluran sperma yang disebabkan oleh prosedur laparoskopi pada pasien anak. Semua kasus komplikasi dilaporkan hanya terjadi pada operasi hernia dengan metode terbuka.
“Semua kasus cedera saluran sperma yang pernah dilaporkan terjadi hanya pada open surgery. Dengan laparoskopi, saya tidak pernah melihat ada saluran sperma yang terpotong,” tegas dr. Karmile.
Faktor utama yang membuat laparoskopi lebih aman adalah kemampuan visualisasi yang superior. Dalam prosedur ini, dokter dapat melihat detail anatomi anak dengan sangat jelas dan tidak perlu melakukan pemotongan yang agresif.
Prosedur Penanganan Jika Saluran Sperma Terpotong
Meskipun sangat jarang, bila dalam kasus tertentu saluran sperma terpotong saat operasi terbuka, maka dokter umumnya langsung melakukan tindakan perbaikan. Langkah ini dilakukan dengan menyambung kembali saluran yang terputus menggunakan teknik jahit mikro.
Namun, keberhasilan prosedur ini belum bisa dipastikan secara ilmiah karena memerlukan studi jangka panjang. Efek jangka panjang terhadap kesuburan baru dapat diketahui saat anak beranjak dewasa dan menjalani evaluasi fertilitas.
“Kalau saluran sperma terpotong, memang bisa disambung. Tapi untuk mengetahui apakah anak akan mandul atau tidak, itu perlu riset jangka panjang,” ujar dr. Karmile.
Mengenal Hernia pada Anak: Gejala, Penyebab, dan Dampaknya
Hernia merupakan kondisi medis yang ditandai dengan penonjolan organ atau jaringan tubuh melalui celah pada dinding rongga tempat organ tersebut berada. Pada anak-anak, kondisi ini umumnya terjadi di area perut dan dikenal luas di masyarakat sebagai turun berok.
Penonjolan bisa berupa usus atau jaringan lemak yang terdorong keluar melalui celah pada dinding perut. Hernia pada anak dapat terlihat sebagai benjolan lunak yang muncul dan menghilang, terutama saat anak menangis, batuk, atau mengejan.
“Pasien termuda saya yang mengalami hernia adalah bayi usia 2 bulan. Biasanya disebabkan karena proses penutupan dinding perut yang tidak sempurna sejak lahir,” terang dr. Karmile.
Faktor penyebabnya bisa bersifat bawaan atau karena lemahnya dinding perut anak. Jika tidak ditangani tepat waktu, hernia dapat menyebabkan komplikasi serius seperti penjepitan organ (strangulasi), kebocoran usus, hingga kematian jaringan.
Penanganan Dini Hernia Sangat Disarankan
Menurut para ahli, tindakan operasi sebaiknya dilakukan sesegera mungkin jika hernia pada anak sudah terdeteksi. Hal ini penting untuk mencegah kemungkinan komplikasi yang lebih serius di kemudian hari. Semakin cepat ditangani, semakin baik hasilnya dan semakin kecil kemungkinan terjadi kerusakan jaringan.
Konsultasi dengan dokter spesialis bedah anak merupakan langkah bijak untuk menentukan metode operasi yang paling sesuai dengan kondisi anak. Dengan perkembangan teknologi bedah yang kini tersedia, risiko komplikasi seperti kemandulan dapat diminimalkan secara signifikan.
Panduan bagi Orangtua: Pilih Teknik Operasi Berdasarkan Saran Medis
Bagi orangtua yang masih merasa cemas, penting untuk berdiskusi terbuka dengan dokter sebelum memutuskan jenis operasi. Laparoskopi memang menjadi metode unggulan karena minim sayatan, mempercepat pemulihan, dan menekan risiko komplikasi.
Namun, setiap kasus hernia memiliki karakteristik tersendiri. Keputusan akhir tetap harus mempertimbangkan kondisi fisik anak, usia, dan kesiapan fasilitas medis di rumah sakit.
Orangtua juga disarankan mencari rumah sakit yang memiliki fasilitas bedah laparoskopi anak dan dokter bedah anak yang berpengalaman, agar prosedur berlangsung aman dan optimal.
Kesimpulan: Teknologi Medis Bantu Redam Kekhawatiran Kemandulan
Ketakutan akan dampak operasi hernia terhadap kesuburan anak memang tidak bisa dianggap remeh. Namun, dengan kemajuan teknologi medis seperti laparoskopi, risiko tersebut kini dapat ditekan seminimal mungkin.
Dokter spesialis anak menyarankan agar orangtua tidak menunda penanganan hernia. Sebaliknya, tindakan cepat dan pemilihan metode operasi yang tepat akan memberikan hasil terbaik bagi masa depan kesehatan anak.
Baca Juga : “Operasi Hernia Ada Dua, Operasi Terbuka dan Laparoskopi“
