Layanan Infus dan Suntik Datang ke Rumah Kembali Populer di Korea Selatan
Tren layanan infus dan suntikan yang bisa dipesan langsung ke rumah kini kembali marak di Korea Selatan. Disebut dengan istilah “joosa aunties”, layanan ini diklaim mampu menyembuhkan mabuk alkohol, meredakan kelelahan, hingga meningkatkan stamina secara instan.
Joosa aunties umumnya adalah perempuan paruh baya dengan latar belakang keperawatan atau pengalaman kerja di fasilitas medis. Mereka menawarkan jasa suntik dan infus tanpa melalui klinik resmi, dan promosinya kini ramai ditemukan di media sosial.
Fenomena ini mengingatkan pada praktik serupa yang terjadi di era 1970-an hingga 1980-an, saat akses layanan medis masih terbatas. Namun, kebangkitan tren ini dalam konteks modern justru menimbulkan kekhawatiran serius soal legalitas dan risiko medis.
Baca Juga : “Kenali 13 Jenis Jerawat dan Cara Tepat Mengatasinya“
Popularitas Didukung Gaya Hidup Cepat dan Kepraktisan Layanan
Korea Selatan dikenal memiliki sistem layanan medis cepat dan efisien. Pasien bisa mendapatkan suntikan vitamin, infus pemulihan, hingga perawatan kecantikan hanya dalam hitungan menit di klinik.
Namun, mobilitas tinggi masyarakat perkotaan membuat sebagian orang memilih layanan yang lebih praktis. Di sinilah para joosa aunties menawarkan solusi: menyuntik langsung di rumah tanpa antrean, konsultasi formal, atau pemeriksaan medis ketat.
“Praktik ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga kemewahan bagi sebagian orang,” kata Lim Hyun-joo, peneliti bidang layanan kesehatan di Seoul. “Tapi kepraktisan tidak bisa menjadi pembenaran jika mengabaikan regulasi medis yang ada.”
Perhatian Publik Meningkat Usai Komedian Terkenal Terseret
Isu tentang layanan ini mencuat setelah komedian Park Na-rae dilaporkan menggunakan jasa suntik kecantikan dan terapi pemulihan dari joosa aunties. Kasusnya menjadi viral dan memicu perdebatan publik soal batas legalitas layanan kesehatan di luar fasilitas resmi.
Beberapa kalangan menilai bahwa penggunaan layanan semacam itu mencerminkan celah dalam sistem regulasi medis di Korea Selatan. Di sisi lain, masyarakat juga mempertanyakan tanggung jawab publik figur dalam memilih jenis perawatan yang dapat ditiru oleh penggemarnya.
Otoritas kesehatan menyatakan bahwa tindakan medis hanya boleh dilakukan oleh tenaga medis tersertifikasi di fasilitas yang berizin. Pelanggaran terhadap aturan ini bisa dikenai sanksi pidana, termasuk denda dan hukuman penjara.
Regulasi Layanan Medis Korea Selatan Tidak Mengizinkan Praktik Mandiri
Menurut Undang-Undang Pelayanan Medis Korea Selatan, semua tindakan medis—termasuk pemberian infus dan suntikan—harus dilakukan di fasilitas resmi, seperti rumah sakit atau klinik berlisensi. Setiap tindakan juga wajib dicatat dalam sistem rekam medis dan diawasi oleh dokter.
Layanan suntik ke rumah yang dilakukan oleh pihak tidak berizin jelas melanggar hukum. Meski beberapa joosa aunties mengklaim memiliki latar belakang medis, tanpa lisensi aktif dan izin praktik, tindakan mereka tergolong ilegal.
“Risikonya bukan hanya pada hukum, tapi juga pada pasien. Reaksi alergi, infeksi, bahkan overdosis bisa terjadi jika prosedur tidak steril atau tanpa diagnosis tepat,” ujar dr. Kim Ji-eun dari Asosiasi Medis Seoul.
Media Sosial Jadi Saluran Promosi Layanan Tak Resmi
Meningkatnya penggunaan media sosial menjadi saluran utama bagi promosi layanan infus ilegal ini. Beberapa unggahan menampilkan testimoni pelanggan yang mengklaim merasa “segar seketika” setelah disuntik vitamin atau cairan detoks.
Unggahan semacam itu sering kali dibumbui dengan bahasa meyakinkan seperti “pemulihan instan”, “energi kembali pulih”, atau “anti-mabuk hanya dalam 15 menit”. Sayangnya, promosi ini nyaris tak menyebut efek samping atau peringatan medis.
Pakar komunikasi kesehatan memperingatkan bahwa promosi semacam ini menyesatkan. Banyak masyarakat awam yang tidak memahami risiko prosedur infus tanpa pengawasan medis. Terlebih, iklan tersebut sering kali tidak mencantumkan identitas tenaga medis yang terlibat.
Risiko Kesehatan Mengintai di Balik Suntikan ‘Ajaib’
Infus vitamin dan suntikan detoks yang dilakukan tanpa pengawasan bisa memicu berbagai komplikasi. Di antaranya adalah reaksi anafilaksis, infeksi akibat alat yang tidak steril, dan ketidakseimbangan elektrolit.
Beberapa kasus di luar negeri juga mencatat insiden fatal akibat pemberian infus sembarangan. Pada 2021, kasus kematian akibat infus vitamin C di rumah dilaporkan di Jepang. Kasus tersebut membuat pemerintah memperketat pengawasan terhadap layanan serupa.
“Infus bukan sekadar memasukkan cairan ke tubuh. Ada kadar, kondisi tubuh, dan indikasi medis yang harus diperhitungkan,” jelas dr. Seo Min-jung dari Korean Medical Association. “Melakukan tindakan ini tanpa prosedur standar sama saja berjudi dengan nyawa pasien.”
Celah Regulasi dan Kurangnya Penegakan Hukum Jadi Masalah Utama
Pemerintah Korea Selatan sejatinya memiliki regulasi jelas soal praktik medis. Namun, lemahnya pengawasan di ranah rumah tangga serta pesatnya penyebaran informasi di media sosial membuat praktik seperti joosa aunties sulit diberantas.
Petugas kesehatan yang mengetahui adanya pelanggaran pun sering kali enggan melapor karena proses penindakan yang lambat atau tidak jelas. Di sisi lain, masyarakat cenderung tidak tahu bahwa menerima layanan semacam ini bisa berakibat hukum.
Menurut laporan Yonhap News, pada 2024 terdapat setidaknya 200 laporan informal terkait praktik suntikan ke rumah oleh individu tak berizin. Namun hanya kurang dari 10 persen yang diproses hingga tahap hukum.
Kasus Ini Jadi Momentum Evaluasi Sistem Layanan Kesehatan
Fenomena ini bisa menjadi titik balik untuk mengevaluasi bagaimana sistem layanan kesehatan Korea Selatan beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Meski masyarakat menginginkan layanan yang lebih praktis, keselamatan dan legalitas tetap harus diutamakan.
Pemerintah perlu memperkuat regulasi, memperluas literasi kesehatan digital, serta menindak promosi layanan medis ilegal di platform online. Jika tidak, praktik semacam ini akan terus tumbuh dan menyasar segmen masyarakat yang mencari solusi cepat tanpa mempertimbangkan risiko.
“Ini waktunya meninjau ulang sistem homecare dan infus rumahan dengan pendekatan modern tapi tetap aman,” ujar Prof. Lee Kyung-won, ahli kebijakan kesehatan Universitas Yonsei.
Penutup: Masyarakat Perlu Sadar, Praktis Tidak Berarti Aman
Fenomena joosa aunties mencerminkan kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan yang cepat dan mudah. Namun, di balik kemudahan tersebut tersembunyi ancaman serius, baik dari sisi medis maupun hukum.
Layanan kesehatan bukan sekadar soal hasil instan, melainkan tentang proses yang aman, transparan, dan terverifikasi. Masyarakat perlu lebih kritis dan bijak sebelum menerima layanan yang tidak berasal dari fasilitas resmi.
Karena dalam dunia medis, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Pilihlah kesehatan yang pasti dan terjamin, bukan yang hanya tampak praktis di permukaan.
Baca Juga : “Viral “Injection Auntie” Akhirnya Buka Suara soal Tuduhan Ijazah Medis Palsu“











