Kemenkes Ungkap Bahaya Super Flu Dibanding Influenza Biasa

Super Flu

Subclade K dari Influenza A (H3N2) Tidak Sebabkan Gejala Lebih Berat

Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI, drg Widyawati, menegaskan bahwa influenza A subclade K—yang populer disebut “super flu”—tidak menyebabkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibanding varian influenza lainnya. Pernyataan ini disampaikan dalam video resmi yang dirilis Kamis, 1 Januari 2026.

“Menurut penilaian WHO dan analisis epidemiologi saat ini, subclade K tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibandingkan clade atau subclade lain,” tegas Widyawati. Penjelasan ini sekaligus meredam kekhawatiran publik setelah munculnya pemberitaan mengenai lonjakan kasus flu di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang dikaitkan dengan subclade K.

Baca Juga : “Kurus Tanpa Stres di 2026 dengan 9 Tips Praktis Ini“

Asal Mula Super Flu: Teridentifikasi di AS dan Sebabkan Lonjakan Musiman

Subclade K pertama kali terdeteksi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025. Sejak itu, penyebarannya meluas hingga tercatat di 81 negara. Di Amerika Serikat sendiri, terjadi peningkatan kasus influenza A (H3N2) sejak Oktober 2025 atau pekan ke-40.

“Lonjakan ini sejalan dengan musim dingin di AS dan tidak jauh berbeda dari tren tahunan sebelumnya,” ujar Widyawati. Hingga akhir 2025, total 1.127 kasus telah dilaporkan di Amerika Serikat, dengan gejala yang tergolong ringan hingga sedang—mirip dengan flu musiman pada umumnya.

Gejala yang timbul antara lain demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan sakit kepala. Tidak ditemukan indikasi bahwa subclade K memiliki karakteristik gejala yang lebih berat dari varian lainnya.

Situasi di Indonesia: 62 Kasus Terkonfirmasi, Mayoritas di Tiga Provinsi

Di Indonesia, Kemenkes melaporkan bahwa hingga akhir Desember 2025, terdapat 62 kasus terkonfirmasi subclade K. Penyebarannya terdeteksi di delapan provinsi melalui proses Whole Genome Sequencing (WGS) yang rampung pada 25 Desember lalu.

Berikut rincian sebaran kasus berdasarkan provinsi:

  • Jawa Timur: 23 kasus
  • Kalimantan Selatan: 18 kasus
  • Jawa Barat: 10 kasus
  • Sumatera Selatan: 5 kasus
  • Sumatera Utara: 3 kasus
  • Jawa Tengah: 1 kasus
  • Sulawesi Utara: 1 kasus
  • DI Yogyakarta: 1 kasus

“Pengambilan sampel dilakukan dari laporan sentinel Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di seluruh Indonesia, termasuk dari Puskesmas, Balai Kekarantinaan Kesehatan, dan rumah sakit,” jelas Widyawati.

Profil Pasien: Perempuan dan Anak-anak Paling Terdampak

Dari 62 kasus yang terdeteksi, mayoritas pasien adalah perempuan dengan total 64,5 persen atau 40 kasus. Jika dilihat dari kelompok usia, rincian pasien menunjukkan bahwa anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak:

  • Usia 1–10 tahun: 35,5%
  • Usia 21–30 tahun: 21,0%
  • Usia 11–20 tahun: 19,4%
  • Usia di atas 60 tahun: 8,1%

Data ini menunjukkan bahwa meskipun flu ini tidak lebih parah, kelompok usia muda dan perempuan tetap menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus.

Dominasi Influenza A (H3) di Indonesia dan Tren Penurunan Kasus

Kemenkes juga melaporkan hasil genome sequencing terhadap 348 dari 843 spesimen influenza yang diperiksa. Dari jumlah tersebut, ditemukan:

  • 152 kasus (44%) adalah tipe A/H1
  • 172 kasus (49%) adalah tipe A/H3, termasuk 62 kasus subclade K
  • 24 kasus (7%) adalah tipe B/Victoria

Dengan hasil ini, dapat disimpulkan bahwa mayoritas kasus influenza di Indonesia selama akhir 2025 didominasi oleh varian A (H3), termasuk subclade K. Namun demikian, tren kasus influenza di Indonesia telah menurun dalam dua bulan terakhir, menunjukkan situasi yang cukup terkendali.

“Semua varian ini terus dipantau dalam sistem surveilans WHO. Pemerintah juga menyesuaikan kebijakan dan upaya mitigasi berdasarkan situasi terbaru,” kata Widyawati.

Pemeriksaan Dilakukan di Dua Laboratorium Nasional

Pengujian dan konfirmasi kasus dilakukan oleh dua laboratorium nasional utama, yakni Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) dan Laboratorium Biologi Kesehatan (Lab Biokes). Keduanya bekerja sama mengidentifikasi penyebaran virus melalui pendekatan WGS.

Langkah ini merupakan bagian dari strategi penguatan sistem deteksi dini penyakit menular yang diterapkan oleh pemerintah setelah pandemi COVID-19.

Kemenkes: Tak Ada Alasan Panik, Tapi Perkuat PHBS dan Vaksinasi

Melihat perkembangan situasi, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik. Fokus utama harus diarahkan pada penguatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

“Cuci tangan secara teratur, istirahat yang cukup, serta konsumsi makanan bergizi adalah langkah sederhana yang sangat efektif,” imbau Widyawati.

Ia juga menekankan pentingnya vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit penyerta (komorbid).

“Vaksin influenza tetap efektif dalam mencegah gejala berat, rawat inap, dan kematian akibat flu,” katanya.

Langkah Pengobatan dan Kapan Harus ke Fasilitas Kesehatan

Kemenkes menyarankan agar mereka yang mengalami gejala flu tetap beristirahat di rumah, mengonsumsi obat antivirus untuk meredakan gejala, serta menerapkan etika batuk dan memakai masker untuk mencegah penularan.

“Segeralah ke fasilitas layanan kesehatan apabila gejala berlangsung lebih dari tiga hari, demam tinggi menetap, atau muncul sesak napas,” jelas Widyawati. Langkah cepat dapat mencegah komplikasi lebih lanjut, terutama pada kelompok rentan.

Pandangan ke Depan: Surveilans Diperkuat, Masyarakat Diminta Waspada

Kasus subclade K menjadi pengingat bahwa penyakit pernapasan seperti influenza tetap memerlukan perhatian serius. Pemerintah melalui Kemenkes berkomitmen memperkuat sistem surveilans nasional, memperluas jangkauan WGS, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap vaksinasi dan PHBS.

Meskipun disebut “super flu”, data yang ada tidak mendukung bahwa virus ini lebih ganas. Namun, kewaspadaan dan pencegahan tetap menjadi kunci dalam menghadapi potensi peningkatan kasus di masa mendatang—terutama menjelang musim hujan di Indonesia yang cenderung memicu lonjakan penyakit pernapasan.

Baca Juga : “Seputar Super Flu (Influenza H3N2): Gejala dan Penyebab“

Exit mobile version