Lonjakan Gangguan Mental Anak Jadi Fokus Pemerintah
Meningkatnya kasus gangguan mental pada anak dan remaja di Indonesia memicu perhatian serius dari pemerintah pusat. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menyuarakan keprihatinannya terhadap fenomena ini. Dalam sebuah dialog lintas pemangku kepentingan bertajuk Towards a Smart Governance, ia menekankan bahwa kesehatan mental adalah pilar penting dalam pembangunan sumber daya manusia.
Peringatan itu muncul seiring hasil evaluasi dari program pemeriksaan kesehatan gratis yang dilakukan di sejumlah wilayah. Data tersebut menunjukkan peningkatan signifikan pada jumlah anak dan remaja yang mengalami gejala gangguan psikologis, mulai dari kecemasan ringan hingga tanda-tanda depresi.
Baca Juga : “6 Cara Menjaga Kesehatan Mental Anak yang Perlu Dipahami Orang Tua“
Anak Terpapar Layar Terlalu Lama, Perilaku Mulai Terganggu
Menurut Pratikno, salah satu penyebab utama munculnya gangguan mental pada kelompok usia muda adalah paparan layar digital yang berlebihan. Ia menyebut bahwa rata-rata waktu screen time masyarakat Indonesia kini telah melampaui 7,5 jam per hari, bahkan pada anak-anak di bawah dua tahun.
“Screen time kita sangat tinggi, lebih dari 7,5 jam. Bahkan anak-anak balita sudah terekspos sangat intens,” ujar Pratikno.
Kondisi ini, menurutnya, tak bisa dibiarkan. Anak yang terlalu lama menatap layar berisiko mengalami gangguan perkembangan sosial dan emosional. Mereka cenderung sulit bersosialisasi secara langsung, lebih mudah gelisah, dan memiliki kecenderungan kehilangan kontrol emosi.
Gawai Gantikan Interaksi Sosial Sejak Dini
Perubahan pola interaksi sosial akibat kemajuan teknologi menjadi perhatian utama dalam pidato Pratikno. Ia menyebut bahwa anak-anak sekarang lebih memilih bermain di dunia maya ketimbang berinteraksi fisik dengan teman sebayanya. Kegiatan bermain tradisional yang semula menjadi sarana tumbuh kembang kini tergeser oleh layar gadget.
“Anak-anak sekarang lebih memilih berinteraksi melalui gawai. Ini berdampak langsung pada kemampuan sosial mereka,” kata Pratikno.
Alih-alih membangun empati dan komunikasi melalui percakapan langsung, anak-anak malah cenderung menarik diri, lebih sensitif, dan rentan terhadap gangguan kecemasan. Pola ini, jika dibiarkan, bisa menjadi hambatan besar dalam pembangunan karakter generasi muda.
Pendekatan Menyeluruh Diperlukan untuk Atasi Masalah
Pratikno mengusulkan pendekatan lintas sektor untuk menyelesaikan masalah ini. Ia menekankan bahwa tidak cukup hanya mengandalkan peran pemerintah. Sekolah, keluarga, organisasi sosial, dan lembaga daerah juga harus mengambil bagian dalam membentuk lingkungan yang mendukung kesehatan mental anak.
Ia mendorong penciptaan ruang interaksi fisik yang aman, ramah anak, dan inklusif agar anak-anak tidak hanya bergantung pada gawai sebagai sumber hiburan dan komunikasi.
“Kita butuh pendekatan komprehensif. Fasilitas sosial untuk anak harus ditingkatkan agar screen time bisa dikurangi,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa kebijakan pengurangan screen time harus ditunjang oleh alternatif kegiatan positif, seperti olahraga, kesenian, serta aktivitas yang melibatkan interaksi sosial langsung.
Dukungan Program Kesehatan Mental Masuk Agenda Prioritas Nasional
Dalam kesempatan yang sama, Pratikno mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo Subianto yang telah memasukkan kesehatan mental sebagai bagian dari agenda prioritas nasional. Upaya ini dilakukan melalui program strategis seperti layanan kesehatan gratis, pembangunan fasilitas medis baru, dan pemberian beasiswa untuk dokter spesialis kejiwaan.
Namun, ia kembali menekankan bahwa keberhasilan program kesehatan mental sangat bergantung pada kolaborasi menyeluruh semua pihak, baik dari sektor publik maupun swasta. Ia menyerukan agar budaya melek mental health mulai dibangun dari lingkungan terdekat anak, yakni keluarga dan sekolah.
“Presiden memberi perhatian besar pada sektor ini. Tapi upaya itu hanya akan efektif jika semua bergerak bersama,” ujarnya.
Data Internasional Dukung Kekhawatiran Pratikno
Laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkuat peringatan yang disampaikan Pratikno. WHO mencatat bahwa penggunaan layar berlebih pada anak-anak dapat menghambat perkembangan bahasa, gangguan tidur, hingga peningkatan risiko gangguan perilaku.
Sementara itu, pedoman dari American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan bahwa anak usia 2–5 tahun sebaiknya tidak lebih dari 1 jam screen time per hari, dan harus didampingi orang tua. Namun realitas di lapangan sangat jauh berbeda.
Data dari lembaga riset Common Sense Media menunjukkan bahwa anak-anak usia sekolah di berbagai negara menghabiskan antara 5 hingga 8 jam per hari di depan layar, baik untuk keperluan belajar maupun hiburan.
Kesimpulan: Membangun Masa Depan Anak Dimulai dari Hari Ini
Peringatan dari Menko PMK Pratikno bukan sekadar alarm, tapi ajakan konkret untuk memperbaiki ekosistem sosial dan digital anak. Tantangan screen time yang berlebihan tidak akan hilang dengan larangan semata, tapi harus diimbangi dengan penyediaan alternatif sehat bagi anak-anak.
Semakin cepat langkah kolektif diambil, semakin besar pula peluang kita menyelamatkan generasi mendatang dari krisis kesehatan mental. Masa depan Indonesia bergantung pada anak-anak yang sehat secara mental, sosial, dan emosional—dan itu dimulai dari kebijakan hari ini.
Baca Juga : “PENTINGNYA KESEHATAN MENTAL BAGI ANAK & REMAJA“











