Pria dan Wanita Alami Varises, Ini Beda Penyebabnya

polasejahtera – Masalah pelebaran pembuluh darah vena atau varises kerap kali dianggap sebagai gangguan kosmetik semata, padahal kondisi ini menyimpan risiko kesehatan sirkulasi yang serius jika dibiarkan. Faktanya, varises dapat menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita. Namun, data dari World Health Organization (WHO) dan Journal of Vascular Surgery mencatat adanya ketimpangan prevalensi yang cukup signifikan. Sekitar 25 persen wanita di seluruh dunia terdiagnosis mengalami kondisi ini, berbanding dengan 10 hingga 15 persen pada populasi pria. Perbedaan angka kejadian ini sangat dipengaruhi oleh anatomi tubuh, dinamika hormonal, serta kebiasaan hidup dan beban pekerjaan sehari-hari.

Mengapa Wanita Lebih Rentan Mengalami Varises?

Secara anatomi medis, varises terjadi ketika katup kecil di dalam pembuluh darah vena mengalami malfungsi. Katup yang rusak ini gagal menahan laju darah ke bawah, sehingga darah yang seharusnya mengalir kembali ke jantung justru menumpuk di area tungkai dan menyebabkan pembuluh vena membengkak. Pada wanita, kerentanan rusaknya katup ini sangat terkait erat dengan sistem endokrin.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan dari Heartology Cardiovascular Hospital Jakarta, dr. Emanoel Oepangat, memaparkan bahwa faktor hormonal memainkan peran yang sangat krusial. “Hormon estrogen dan progesteron dapat melemahkan dinding pembuluh darah, sementara tekanan intra-abdomen saat hamil menambah beban kerja vena di tungkai,” jelas beliau. Fase kehamilan, siklus menstruasi rutin, hingga masuknya masa menopause selalu diikuti dengan fluktuasi hormon yang secara langsung memengaruhi hilangnya elastisitas pembuluh darah vena pada wanita.

Baca Juga : “7 Cara Alami Cegah Gigitan Nyamuk Tanpa Obat Kimia“

Faktor Risiko Utama Varises pada Pria

Berbeda dengan wanita yang sangat dipengaruhi oleh faktor internal hormon, kemunculan varises pada pria lebih dominan disebabkan oleh faktor eksternal seperti gaya hidup dan aktivitas pekerjaan. Pria yang menjalani profesi dengan tuntutan berdiri dalam durasi yang panjang—seperti pekerja pabrik, tenaga medis, dan aparat keamanan—memiliki risiko kerusakan katup vena yang jauh lebih tinggi. Posisi berdiri yang statis membuat otot betis tidak berkontraksi secara maksimal, sehingga gaya gravitasi terus membebani pembuluh darah kaki.

Selain itu, gaya hidup sedenter (kurang gerak) atau pekerjaan yang mengharuskan duduk seharian di depan layar juga menjadi pemicu utama. Posisi tungkai kaki yang menekuk statis dalam waktu lama menghambat sirkulasi aliran balik vena, yang seiring waktu akan menciptakan tekanan kuat dan memicu pelebaran dinding pembuluh darah.

Tahapan Gejala yang Pantang Diabaikan

Varises merupakan penyakit sirkulasi yang memiliki sifat progresif. Kondisi ini berkembang secara perlahan dari keluhan ringan hingga menjadi gangguan vaskular kronis. Pada tahap paling awal, penderita sering kali hanya merasakan kaki terasa berat, nyeri tumpul, atau mudah lelah setelah menjalani rutinitas. Gejala pembuka ini kerap kali diabaikan karena hanya dianggap sebagai kelelahan otot biasa sesudah beraktivitas.

Seiring bertambahnya kerusakan katup, pembengkakan mulai muncul di area pergelangan kaki yang terlihat jelas saat sore atau malam hari. Fase selanjutnya ditandai dengan kemunculan pembuluh darah halus berwarna kebiruan atau keunguan yang membayang di bawah kulit. Jika terus dibiarkan tanpa adanya intervensi medis, pembuluh darah vena akan semakin menebal, menonjol keluar, dan tampak terpuntir di permukaan kulit layaknya simpul tali.

Pada stadium yang lebih lanjut, penumpukan darah akan merusak jaringan sekitar dan memicu hiperpigmentasi kulit di sekitar betis. “Bercak kehitaman di kaki sering disangka akibat diabetes, padahal bisa merupakan tanda penyakit vena kronis yang sudah berjalan lama,” tegas dr. Emanoel.

Risiko Komplikasi dan Pilihan Terapi Medis Terkini

Mengabaikan varises sama halnya dengan membiarkan fungsi sirkulasi tubuh semakin memburuk. Pembengkakan vena yang tidak tertangani berpotensi memicu komplikasi yang mengancam kualitas hidup, seperti insufisiensi vena kronis dan munculnya ulkus vena (luka terbuka berbentuk kawah pada kulit yang sangat sulit disembuhkan). Risiko paling fatal adalah terjadinya Deep Vein Thrombosis (DVT) atau penggumpalan darah di vena dalam yang dapat terbawa ke paru-paru.

Untuk menghindari komplikasi berbahaya tersebut, deteksi dan intervensi medis sedini mungkin menjadi kunci utama. “Banyak pasien baru datang ketika sudah muncul keluhan nyeri, bengkak, atau luka di kaki. Padahal, varises adalah kondisi progresif yang semakin sulit diatasi jika dibiarkan terlalu lama,” ungkap dr. Emanoel mengingatkan masyarakat.

Langkah penanganan di rumah sakit biasanya diawali dengan evaluasi menyeluruh menggunakan Duplex Ultrasound Vaskular. Teknologi pencitraan tingkat tinggi ini mampu memvisualisasikan derajat kebocoran katup dan mendeteksi titik sumbatan sirkulasi secara akurat. Berdasarkan hasil diagnostik tersebut, tim medis akan menyusun rencana terapi terbaik. Beberapa penanganan medis modern untuk mengatasi varises meliputi:

  • Terapi Kompresi Medis: Penggunaan stoking khusus untuk memberikan tekanan terukur pada tungkai bagian bawah, membantu fungsi otot betis dalam memompa sisa darah kembali ke jantung.
  • Sclerotherapy: Prosedur rawat jalan berupa penyuntikan cairan atau busa kimia ke dalam vena yang rusak untuk mengiritasi dan menutup permanen pembuluh darah bermasalah.
  • Ablasi Frekuensi Radio (RFA) dan Terapi Laser (Laser Vein Therapy): Intervensi termal invasif minimal tanpa menggunakan sayatan bedah besar. Prosedur ini mengempiskan dinding vena rusak secara cepat, sehingga pasien memungkinkan untuk langsung pulang di hari yang sama.

Secara keseluruhan, penanganan varises masa kini mengutamakan pemulihan kesehatan secara holistik. Tindakan yang dilakukan oleh dokter tidak sekadar bertujuan memperbaiki nilai estetika kaki, namun mengembalikan fungsi normal vena, melancarkan sirkulasi peredaran darah tubuh, dan mencegah ancaman komplikasi fatal di masa depan. Dengan memahami penyebab utamanya dan tidak meremehkan gejala awal yang muncul, baik pria maupun wanita dapat menjaga kesehatan pembuluh darah mereka secara optimal.

Baca Juga : “Kasus FH UI Soroti Bahaya Pelecehan Seksual Digital“

Exit mobile version