Sering Marah-Marah Tingkatkan Risiko Gangguan Irama Jantung

Ledakan Emosi Berulang Dapat Memicu Gangguan Irama Jantung

polasejahtera – Amarah yang tidak terkendali ternyata dapat memberi tekanan langsung pada kerja jantung. Ketika seseorang sering marah hingga mengalami ledakan emosi, tubuh akan berulang kali memasuki kondisi stres yang memengaruhi denyut, tekanan darah, dan sistem listrik jantung.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bobby Arfhan Anwar, menjelaskan bahwa kebiasaan marah berlebihan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya aritmia atau gangguan irama jantung. Risiko tersebut lebih besar pada orang yang telah memiliki masalah kesehatan kardiovaskular.

Ia menyampaikan penjelasan itu melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Unggahan tersebut memuat kembali materi edukasi yang sebelumnya ia bagikan melalui Threads mengenai hubungan antara emosi dan kesehatan jantung.

Menurut dr. Bobby, orang yang kerap meluapkan kemarahan secara ekstrem berpotensi menghadapi risiko gangguan irama jantung lebih tinggi dibandingkan orang yang mampu mengontrol respons emosionalnya.

Tubuh Melepaskan Hormon Stres Ketika Seseorang Marah

Saat seseorang marah, otak mengaktifkan respons stres dan memerintahkan tubuh melepaskan adrenalin serta noradrenalin. Kedua hormon itu membuat denyut jantung semakin cepat dan tekanan darah meningkat.

Respons tersebut sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh ketika menghadapi ancaman. Namun, masalah dapat muncul ketika reaksi itu terjadi terlalu sering atau berlangsung secara berlebihan.

Lonjakan hormon stres juga dapat membuat jaringan listrik jantung menjadi lebih sensitif. Kondisi ini memungkinkan impuls listrik muncul secara tidak teratur dan mengganggu ritme normal jantung.

Dr. Bobby menjelaskan bahwa marah tidak hanya memengaruhi suasana hati. Emosi tersebut juga mengubah aktivitas fisiologis tubuh dan meningkatkan beban kerja jantung dalam waktu singkat.

Penderita Hipertensi dan Penyakit Jantung Menghadapi Risiko Lebih Besar

Efek kemarahan terhadap jantung dapat berbeda pada setiap orang. Individu yang sehat mungkin hanya mengalami peningkatan denyut sementara, sedangkan orang dengan kondisi tertentu dapat menghadapi risiko lebih serius.

Kelompok yang perlu lebih berhati-hati mencakup penderita penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan gangguan keseimbangan elektrolit. Orang yang memiliki kecenderungan bawaan terhadap aritmia juga termasuk kelompok berisiko.

Pada kondisi tersebut, lonjakan adrenalin dapat menjadi pemicu munculnya detak jantung yang terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan.

Gangguan elektrolit juga dapat memperburuk keadaan karena mineral seperti kalium, natrium, dan magnesium berperan dalam menjaga kestabilan sinyal listrik jantung.

Baca Juga : “Bahaya Menahan Bersin yang Sering Dianggap Sepele“

Gangguan Sistem Saraf Dapat Mengacaukan Impuls Listrik Jantung

Ketika amarah memuncak, aktivitas sistem saraf simpatis meningkat. Sistem ini mengatur respons tubuh saat menghadapi tekanan, termasuk mempercepat denyut jantung dan meningkatkan aliran darah.

Aktivitas simpatis yang terlalu dominan dapat mengganggu keseimbangan sistem saraf otonom. Akibatnya, sel otot jantung menjadi lebih mudah menerima rangsangan listrik yang tidak normal.

Jika kondisi tersebut berlangsung berulang, kestabilan irama jantung dapat terganggu. Risiko menjadi lebih tinggi apabila seseorang juga memiliki penyakit penyerta atau menjalani pola hidup yang kurang sehat.

Dr. Bobby menyebut sejumlah gangguan yang dapat berkaitan dengan ledakan emosi. Gangguan tersebut meliputi fibrilasi atrium, takikardia ventrikel, hingga henti jantung mendadak pada individu tertentu.

Fibrilasi atrium menyebabkan ruang atas jantung berdetak tidak teratur. Sementara itu, takikardia ventrikel terjadi ketika ruang bawah jantung berdetak sangat cepat dan tidak mampu memompa darah secara efektif.

Amarah Bukan Satu-Satunya Penyebab Aritmia

Meski kemarahan dapat menjadi pemicu, aritmia tidak selalu disebabkan oleh faktor emosional. Gangguan irama jantung juga dapat dipengaruhi penyakit jantung koroner, kelainan katup, masalah tiroid, efek obat, serta konsumsi stimulan.

Kurang tidur, dehidrasi, kafein berlebihan, alkohol, dan kebiasaan merokok juga dapat meningkatkan kemungkinan munculnya jantung berdebar.

Karena itu, seseorang tidak dapat memastikan penyebab aritmia hanya berdasarkan gejala. Pemeriksaan medis dibutuhkan untuk mengetahui jenis gangguan dan faktor pemicunya.

Dokter dapat melakukan rekam jantung atau elektrokardiogram untuk menilai aktivitas listrik jantung. Dalam beberapa kasus, pasien juga membutuhkan alat pemantauan irama selama satu hari atau lebih.

Mengelola Emosi Dapat Membantu Mengurangi Beban Jantung

Dr. Bobby menyarankan masyarakat mengenali situasi yang sering memicu kemarahan. Langkah tersebut dapat membantu seseorang menyiapkan respons yang lebih tenang sebelum emosi meningkat.

Memberikan jeda beberapa saat sebelum bereaksi menjadi salah satu cara sederhana untuk meredakan ketegangan. Seseorang dapat menghitung perlahan, menarik napas dalam, atau meninggalkan situasi untuk sementara.

Teknik pernapasan dapat membantu menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis. Cara ini juga memberi waktu kepada tubuh untuk kembali menuju kondisi yang lebih stabil.

Aktivitas spiritual, termasuk berdoa atau berzikir sesuai keyakinan, juga dapat digunakan sebagai metode relaksasi bagi sebagian orang.

Tidur dan Olahraga Mendukung Kestabilan Irama Jantung

Kualitas tidur memiliki peran penting dalam mengendalikan respons stres. Kurang tidur dapat membuat tubuh lebih mudah tegang dan meningkatkan aktivitas hormon stres.

Orang dewasa perlu menjaga jadwal tidur yang teratur serta mengurangi kebiasaan begadang. Gangguan tidur yang berlangsung lama sebaiknya dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.

Olahraga intensitas sedang juga membantu menjaga fungsi jantung dan memperbaiki kemampuan tubuh menghadapi stres. Aktivitas tersebut dapat berupa berjalan cepat, bersepeda, atau berenang.

Dr. Bobby menganjurkan olahraga intensitas sedang dengan total sekitar 150 menit dalam satu minggu. Namun, penderita penyakit jantung perlu menyesuaikan jenis latihan dengan rekomendasi dokter.

Pola Hidup Sehat Membantu Menurunkan Risiko Aritmia

Selain mengelola emosi, seseorang perlu mengurangi faktor yang dapat memicu jantung berdebar. Konsumsi kopi, minuman energi, dan produk berkafein sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan.

Rokok perlu dihindari karena nikotin dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Alkohol juga dapat memengaruhi irama jantung pada sebagian orang.

Tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol harus dipantau secara berkala. Ketiga faktor tersebut berkaitan erat dengan risiko penyakit kardiovaskular.

Pasien yang telah menerima obat jantung perlu mengonsumsinya sesuai petunjuk dokter. Menghentikan obat tanpa konsultasi dapat memperbesar risiko munculnya gangguan atau komplikasi.

Jantung Berdebar Setelah Marah Perlu Diwaspadai

Seseorang perlu segera mencari pertolongan medis apabila jantung berdebar disertai pusing, nyeri dada, sesak napas, atau tubuh terasa sangat lemah.

Keluhan hampir pingsan maupun kehilangan kesadaran juga membutuhkan pemeriksaan secepatnya. Gejala tersebut dapat menandakan jantung tidak mampu memompa darah secara optimal.

Jantung berdebar sesaat setelah marah belum tentu menunjukkan gangguan berbahaya. Namun, gejala yang berulang, berlangsung lama, atau disertai keluhan lain tidak boleh diabaikan.

Pengelolaan emosi pada akhirnya tidak hanya penting untuk menjaga hubungan sosial dan kesehatan mental. Kebiasaan tersebut juga membantu mengurangi tekanan berlebihan pada sistem kardiovaskular.

Marah merupakan respons manusiawi, tetapi cara meluapkannya perlu dikendalikan. Dengan mengenali pemicu, menjalani pola hidup sehat, dan memeriksakan gejala mencurigakan, risiko gangguan irama jantung dapat ditekan.

Exit mobile version