Sleep Call Jadi Kebiasaan Baru, Tapi Mengganggu Ritme Tidur
Tidur sambil melakukan sleep call kini menjadi kebiasaan banyak orang, terutama di kalangan pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh (Long Distance Relationship atau LDR). Dalam praktiknya, ponsel dibiarkan menyala semalaman, diletakkan dekat kepala, dan panggilan dibiarkan aktif selama berjam-jam.
Kebiasaan ini sering dianggap tidak berbahaya karena hanya sebagai bentuk kedekatan emosional. Namun, menurut pakar tidur dan kesehatan digital, kebiasaan ini justru bisa berdampak negatif terhadap kualitas tidur. Aktivitas ini tidak sekadar mendampingi tidur, tetapi berpotensi mengacaukan fungsi biologis tubuh, khususnya pola tidur dan kesehatan otak.
Baca Juga : “8 Makanan Pemicu Asam Urat yang Harus Dihindari Penderita“
Paparan Cahaya Layar Ponsel Mengacaukan Produksi Melatonin
Salah satu bahaya utama dari sleep call adalah paparan cahaya buatan dari layar ponsel. Melansir dari Home Sleep pada Rabu, 17 Desember 2025, cahaya dari ponsel—terutama cahaya biru—dapat menekan produksi melatonin, hormon alami yang membantu tubuh mengatur ritme tidur atau circadian rhythm.
Meski banyak penelitian terbaru menyebutkan bahwa efek cahaya biru bersifat minimal jika pemakaian ponsel hanya sebentar, sleep call adalah aktivitas jangka panjang. Layar ponsel yang menyala berulang karena notifikasi, sentuhan tanpa sadar, atau perubahan antarmuka akan membuat paparan cahaya menjadi lebih sering dan berkepanjangan.
“Paparan cahaya, meski minim, jika terjadi terus-menerus sepanjang malam bisa memberikan sinyal ke otak bahwa belum waktunya tidur. Ini mengganggu proses masuk ke tahap tidur dalam,” jelas Dr. Ratih Pramana, dokter spesialis saraf dan pengamat sleep hygiene.
Otak Tetap Aktif karena Stimulasi Sosial saat Sleep Call
Gangguan kualitas tidur tidak hanya berasal dari cahaya ponsel. Stimulasi psikologis selama sleep call juga memberi beban tersendiri pada otak. Mendengar suara pasangan—meski terasa menenangkan—tetap memicu respons otak seolah masih berada dalam interaksi sosial.
Otak manusia dirancang untuk merespons suara dan emosi. Ketika percakapan terjadi, apalagi menyangkut topik personal, hubungan, atau masalah pekerjaan, otak memproses informasi tersebut bahkan setelah suara berhenti terdengar. Akibatnya, tubuh mungkin tampak tidur, tetapi otak belum memasuki fase istirahat mendalam.
Dalam banyak kasus, kebiasaan ini menyebabkan delay sleep onset, yaitu waktu untuk tertidur menjadi lebih lama. Bahkan, beberapa individu mengalami gangguan seperti mimpi berulang, bangun tidak segar, atau tidak bisa tidur tanpa kehadiran ponsel. Efek psikologis ini menciptakan ketergantungan pada sleep call sebagai “ritual tidur”.
Sleep Call Sebabkan Tidur Dangkal dan Gangguan Jam Biologis
Tidur yang sehat bukan hanya tentang berapa lama seseorang tidur, tetapi seberapa dalam dan konsisten siklus tidur tersebut berlangsung. Ketika seseorang terpapar rangsangan sosial dan cahaya buatan semalaman, siklus tidur—terutama fase tidur dalam (deep sleep)—terganggu.
Deep sleep penting untuk pemulihan otak dan tubuh, termasuk memperkuat daya ingat dan memperbaiki sel. Ketika fase ini terganggu, risiko kelelahan di siang hari, penurunan fokus, dan mood swing meningkat. Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, akan berdampak pada kesehatan mental dan fisik.
“Tidur yang terganggu secara kronis meningkatkan risiko depresi, gangguan kecemasan, bahkan gangguan metabolik seperti diabetes dan tekanan darah tinggi,” ungkap dr. Yuliana Kartika, Sp.KJ, psikiater RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Sleep Call dan Gangguan Sleep Hygiene Generasi Muda
Sleep hygiene adalah serangkaian kebiasaan sehat sebelum tidur yang mendukung kualitas istirahat. Kebiasaan sleep call termasuk salah satu penyebab umum menurunnya sleep hygiene di kalangan generasi muda saat ini. Dalam survei yang dilakukan oleh Sleep Foundation pada 2024, sekitar 38% remaja dan dewasa muda mengaku rutin melakukan sleep call lebih dari tiga kali seminggu.
Lebih dari 60% dari mereka juga melaporkan mengalami tidur tidak nyenyak, bangun tengah malam, atau sulit tidur kembali. Ini menjadi indikasi bahwa sleep call bukan hanya berdampak ringan, tapi memiliki pengaruh jangka panjang terhadap pola istirahat dan keseimbangan hormon.
Tips Mengurangi Dampak Negatif Sleep Call bagi Kesehatan Tidur
Kebiasaan sleep call tidak sepenuhnya harus dihentikan. Namun, perlu dilakukan dengan pengaturan yang tepat agar tidak mengorbankan kesehatan tidur. Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan:
- Batasi durasi sleep call maksimal 30 menit dan akhiri sebelum benar-benar tidur.
- Gunakan earphone wireless untuk mengurangi paparan ponsel langsung ke kepala.
- Aktifkan fitur “Do Not Disturb” agar tidak terganggu notifikasi lain.
- Gunakan mode gelap (dark mode) dan kurangi kecerahan layar.
- Letakkan ponsel jauh dari kepala untuk mencegah paparan gelombang elektromagnetik dan cahaya.
Kebiasaan ini juga bisa disertai dengan rutinitas penenang seperti mendengarkan musik santai, meditasi ringan, atau membaca buku fisik sebelum tidur agar tubuh terbiasa rileks tanpa ketergantungan pada ponsel.
Kesimpulan: Utamakan Kualitas Tidur daripada Keterhubungan Virtual
Keterhubungan emosional lewat sleep call memang memberi kenyamanan sesaat, terutama bagi pasangan yang terpisah jarak. Namun, jika dilakukan tanpa kontrol, kebiasaan ini bisa menjadi bumerang bagi kesehatan tubuh dan pikiran.
Tidur adalah waktu pemulihan yang tidak tergantikan. Mengorbankannya demi koneksi virtual justru bisa berdampak pada performa, kesehatan mental, dan daya tahan tubuh. Bijak menggunakan teknologi dan membangun pola tidur sehat menjadi investasi penting untuk kesejahteraan jangka panjang.
Jika kamu atau pasangan sedang menjalani hubungan jarak jauh, pertimbangkan bentuk komunikasi lain yang tidak mengganggu tidur. Berkirim pesan sebelum tidur atau berbincang singkat lalu beristirahat terpisah adalah pilihan yang lebih sehat. Ingat, tidur yang berkualitas akan memperkuat mental dan emosi—termasuk dalam menjaga keharmonisan hubungan.
Baca Juga : “5 Risiko Sleep Call yang Jarang Disadari: Romantis di Luar, Bahaya di Dalam“











