Tingkatkan Keamanan Operasi Skoliosis dengan Teknologi Neuronavigasi
Operasi skoliosis membutuhkan presisi tinggi karena kelengkungan tulang belakang menyebabkan anatomi sulit dikenali. Kesalahan kecil bisa berdampak serius, terutama saat memasang pedicle screw yang dekat saraf dan pembuluh darah besar. Akurasi menjadi kunci utama untuk mengurangi risiko komplikasi dan mempercepat pemulihan pasien.
Baca Juga : “Ahn Eun Jin Tampil Ramping di Dynamite Kiss, Ini 3 Dietnya“
Neuronavigasi: “GPS” untuk Tulang Belakang
Teknologi neuronavigasi berperan seperti GPS dalam tubuh manusia. Alat ini memetakan struktur tulang dan membantu dokter menentukan arah koreksi, serta memastikan pemasangan pedicle screw tepat sasaran. Dengan panduan visual real-time, setiap langkah dalam prosedur dapat dilakukan dengan lebih aman dan terukur.
Dr. dr. Wawan Mulyawan, SpBS(K), SpKP, AAK, menyatakan, “Adanya neuronavigasi itu sangat membantu, karena dari awal kita sudah membuat perencanaan arah koreksi dan pemasangan skrup secara presisi.” Pernyataan ini disampaikan dalam seminar ‘Role of Spinal Neuronavigation,’ Jakarta Pusat, 11 Desember 2025.
Apa Itu Skoliosis dan Kapan Operasi Diperlukan?
Skoliosis terjadi saat sudut kelengkungan lateral tulang belakang melebihi 10 derajat. Banyak pasien awalnya tidak merasakan sakit, tetapi perubahan bentuk tubuh menurunkan kepercayaan diri. Operasi skoliosis umumnya dilakukan untuk memperbaiki postur dan, pada beberapa kasus, memberikan peningkatan tinggi badan yang signifikan.
Dr. Wawan mencontohkan pasien muda dengan sudut Cobb 70 derajat. Setelah operasi, pasien bertambah tinggi hingga 7 cm karena tulang belakang berhasil diluruskan, menunjukkan dampak fisik dan psikologis yang besar dari prosedur koreksi ini.
Peran Penting Neuronavigasi dalam Operasi Skoliosis
Pemasangan pedicle screw tepat sangat krusial. Pada metode konvensional, akurasi sering terhambat rotasi tulang dan hilangnya anatomi normal. Kesalahan sekecil apa pun bisa menimbulkan cedera saraf atau pembuluh darah. Neuronavigasi memungkinkan dokter memandu trajektori skrup dengan akurat, mengurangi risiko miss placement secara signifikan.
“Concern utama kita adalah jangan sampai skrup yang kita pasang itu miss placed,” tegas Dr. Wawan. Dengan teknologi ini, dokter memiliki kontrol penuh atas posisi skrup, sehingga prosedur menjadi lebih aman dan terprediksi.
Mengurangi Komplikasi dan Mempercepat Pemulihan
Neuronavigasi juga berperan besar dalam menekan risiko komplikasi. Tanpa teknologi ini, komplikasi bisa mempersulit proses pemulihan. Operasi dengan neuronavigasi memungkinkan sayatan minimal, mengurangi cedera saraf, dan mempercepat masa pemulihan.
“Kombinasi neuronavigasi dengan intraoperative monitoring membuat akurasi operasi mencapai 99,9 persen,” ujar Dr. Wawan. Pendekatan ini meningkatkan keamanan, meminimalkan risiko, dan memungkinkan pasien kembali ke aktivitas normal lebih cepat.
Kesimpulan: Masa Depan Operasi Skoliosis Lebih Aman
Dengan neuronavigasi, operasi skoliosis kini menjadi lebih presisi dan aman. Teknologi ini memberi dokter panduan visual yang akurat, menekan risiko komplikasi, dan mendukung pemulihan pasien secara optimal. Di masa depan, integrasi teknologi ini di rumah sakit diharapkan menjadi standar, meningkatkan kualitas layanan kesehatan tulang belakang di Indonesia.
Baca Juga : “Skoliosis vs Postur Tubuh Buruk: Bagaimana Membedakannya?“
