Mencegah Alzheimer sejak usia muda kini menjadi perhatian penting di tengah meningkatnya jumlah lansia di Indonesia. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan geriatri dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Probosuseno, SpPD-KGer, menjelaskan cara praktis menjaga kesehatan otak agar tetap tajam hingga lanjut usia.
Rumus MAS OK: Strategi Holistik Untuk Menjaga Kesehatan Otak
Dalam pemaparannya, dr. Probo memperkenalkan pendekatan yang disebut MAS OK. Ini merupakan akronim dari lima elemen penting yang diyakini mampu merangsang dan melindungi fungsi otak secara menyeluruh.
Baca Juga : “AI Ubah Pola Asuh Anak, Psikolog Ungkap Dampaknya“
M (Mother of Learning): Aktivitas yang Merangsang Otak
Probo menekankan pentingnya melatih otak dengan aktivitas belajar yang aktif. Membaca, mendengarkan, menulis, dan menjelaskan ulang informasi disebut sebagai empat pilar utama. Aktivitas ini diyakini merangsang konektivitas antarsel otak dan memperlambat proses degeneratif.
A (Agama): Ketenangan dan Keseimbangan Emosi dari Praktik Spiritualitas
Kegiatan keagamaan seperti berdoa, meditasi, hingga sujud memiliki efek menenangkan pikiran. Probo menyebut aktivitas spiritual dapat membantu menjaga keseimbangan hormon dan mengurangi stres, yang merupakan salah satu pemicu risiko demensia.
S (Seni dan Sosial): Kesehatan Mental Melalui Ekspresi dan Interaksi
Kegiatan seni seperti melukis, menyanyi, atau bermain musik diyakini mampu menjaga fungsi kognitif. Sementara itu, keterlibatan sosial membantu mencegah isolasi dan depresi, dua faktor yang berkaitan erat dengan penurunan kognitif.
Rumus OK: Pola Hidup Sehat Penunjang Otak Aktif
Selain MAS, dr. Probo menambahkan rumus lanjutan, yakni OK, yang terdiri dari:
O (Obat): Kepatuhan Terhadap Terapi Penyakit Kronis
Bagi penderita penyakit kronis seperti diabetes atau hipertensi, Probo mengingatkan pentingnya minum obat secara teratur. Ketidakteraturan dalam pengobatan dapat memperburuk kondisi dan memicu penurunan fungsi otak.
K (Kontrol): Pemeriksaan Kesehatan Secara Berkala
Pemeriksaan kesehatan secara rutin memungkinkan deteksi dini berbagai kondisi medis yang dapat memperburuk kesehatan otak, seperti hipertensi atau kolesterol tinggi.
Aktivitas Fisik: Cara Paling Efektif Menunda Alzheimer
Menurut dr. Probo, olahraga ringan seperti berjalan kaki selama 30 menit setiap hari dapat menurunkan risiko Alzheimer. Ia menekankan bahwa aktivitas fisik tidak harus berat. Bahkan berjalan santai secara teratur sudah cukup untuk menjaga sirkulasi darah ke otak.
“Cukup 30 menit per hari. Bisa dicicil pagi, siang, sore. Tidak harus langsung,” ujar Probo seperti dikutip dari laman UGM (30/11/2025).
Panduan Langkah Ideal Sesuai Usia
Probo juga memberikan panduan jumlah langkah harian berdasarkan kelompok usia:
- Usia lanjut: 3.000–5.000 langkah per hari
- Usia muda: 5.000–7.000 langkah per hari
Olahraga yang dilakukan pagi hari antara pukul 07.00–10.00 disarankan karena cahaya matahari pagi membantu mengatur hormon suasana hati dan meningkatkan kualitas tidur.
Alternatif Aktivitas untuk Lansia dengan Keterbatasan Gerak
Untuk lansia yang tidak mampu berjalan jauh, aktivitas seperti senam otak, peregangan ringan, dan latihan otot sederhana bisa menjadi pilihan. Hal terpenting adalah tetap aktif, karena kekurangan gerak justru mempercepat degenerasi otak.
“Kalau kurang gerak justru mempercepat terjadinya demensia,” tegas Probo.
Mengenal 15 Faktor Risiko Alzheimer yang Harus Diwaspadai
Dokter Probo menjelaskan bahwa Alzheimer adalah penyakit degeneratif yang muncul akibat kerusakan jaringan saraf otak. Ia menyebut 15 faktor risiko yang dapat meningkatkan peluang seseorang terkena Alzheimer:
- Diabetes
- Hipertensi
- Kolesterol tinggi
- Obesitas
- Polusi udara
- Kebiasaan merokok
- Depresi berkepanjangan
- Pendidikan rendah
- Gangguan pendengaran
- Gangguan penglihatan
- Kurang olahraga
- Minim interaksi sosial
- Cedera kepala
- Kurang cahaya matahari
- Jarang beraktivitas di luar ruangan
Meski tidak menyebabkan langsung, faktor-faktor ini memperbesar kemungkinan terjadinya demensia.
Prevalensi Alzheimer di Indonesia Terus Meningkat
Menurut data Kementerian Kesehatan RI, lebih dari 4,2 juta orang Indonesia mengalami Alzheimer. Jumlah ini diperkirakan terus naik seiring pertambahan populasi lansia di Indonesia. Alzheimer telah menjadi salah satu tantangan kesehatan paling serius di era penuaan populasi.
Alzheimer Tidak Bisa Disembuhkan, Tapi Bisa Diperlambat
Hingga saat ini, Alzheimer masih belum memiliki obat yang dapat menyembuhkan. Namun, pendekatan seperti MAS OK dan aktivitas fisik terbukti dapat memperlambat laju kerusakan kognitif.
Studi dari Alzheimer’s Association menunjukkan bahwa penerapan gaya hidup sehat dapat menurunkan risiko demensia hingga 40 persen, terutama bila dilakukan sejak usia produktif.
Peran Keluarga dan Masyarakat dalam Pencegahan Alzheimer
Pencegahan Alzheimer tidak bisa dilakukan sendiri. Peran keluarga, komunitas, dan pemerintah sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental dan fisik lansia.
Kegiatan komunitas, ruang publik yang ramah lansia, serta edukasi tentang gaya hidup sehat perlu ditingkatkan agar masyarakat lebih sadar dan siap menghadapi risiko demensia.
Kesimpulan: Investasi Otak Sejak Muda adalah Kunci Sehat di Hari Tua
Mencegah Alzheimer bukanlah tugas di usia tua saja. Investasi terhadap kesehatan otak perlu dimulai sejak usia muda melalui stimulasi kognitif, aktivitas fisik, spiritualitas, dan gaya hidup sehat. Seperti ditekankan dr. Probosuseno, menjaga otak tetap tajam bisa dilakukan dengan cara sederhana namun konsisten.
“Alzheimer bukan akhir dari segalanya. Dengan pencegahan dini, masa tua bisa tetap aktif dan bermakna,” pungkasnya.
Baca Juga : “Cara Mengurangi Resiko Demensia“
